بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Tidak
sedikit dari kita yang akrab dengan kata ikhlas..
dan barangkali tiap orangpun sudah mengenalnya..
dan barangkali tiap orangpun sudah mengenalnya..
Namun
apakah kita telah tahu sejati dari kata ikhlas itu sendiri?
Tentunya
sewaktu SD, kita mendapat pelajaran PPKn :p
Ada
yang ingat dengan pelajaran ini? :D
apa jangan-jangan sudah mencampakkannya begitu saja?
apa jangan-jangan sudah mencampakkannya begitu saja?
Ddduuuuuuhhh
kasiand sekali pelajaran ini T.T
Yap,
dalam pelajaran ini kita pernah mendengar sekilas kata ikhlas dalam
pelajarannya :D
seperti dalam contoh..
seperti dalam contoh..
Ada
gambar anak yang menolong temannya, namun ketika sang teman memberinya sebuah hadiah
untuk si anak, tapi si anak menolaknya dan menjawabnya “saya ikhlas” J
Atau
ada beberapa kali sebuah iklan kartu perdana menampilkan sebuah kegiatan bulan
suci ramadhan, dan di dalamnya si X mendapat titah dari kakek tua untuk
mengingatkan sahur ke semua orang seluruh kampung. Dan si kakek acap kali
sering bilang “ikhlas,, ikhlas,, ikhlaslah menolong”
Nah
itu sekilas mengingatkan kata ikhlas dalam benak kita..
Namun
apakah hanya sesederhana itu kata ikhlas?
Tidak
hanya sesempit itu, namun cakupan ikhlas sangat dalam dan luas J
Ikhlas
tidak hanya berupa kegiatan yang sudah kita laksanakan namun aktivitas apapun
yang akan kita lakukan menuntut sebuah keikhlasan ^^
Memang
apa sih manfaat kita ketika ikhlas?
Lha
wong nolong dikasih uang aja nolak, dan bilang “saya ikhlas”
Masa
ya ada manfaatnya?
Menolak
rezeki kog ada manfaatnya :o
Naaahhhh
itulah yang menjadi “greget” untuk pembahasan kali ini.. :D
Sering
kali memang kita mendengar kata ikhlas, bahkan tak luput ketika kita mengucap
kata ikhlas itu sendiri.
Tapi
benarkah kita sudah tau maknanya sebelum mengucapkannya atau melakukannya?
Tidak
usah jauh-jauh menilik segala aktivitas yang dilakukan dalam sekali waktu,
namun ingatlah aktivitas yang dilakukan berkali waktu.
Bingung?
:D
Berarti
pola pikir anda masih berjalan :p
Hihi
Yap ibadah kita kepada Allah ^^
Seringkali
kita melakukannya tanpa pikir panjang karena sudah merupakan pola kita, pola
untuk berinteraksi dengan Allah. Namun apakah didalamnya kita melakukannya
dengan ikhlas?
Karena
Allah semata low? :p
Bukan
karena yang lain :D
bukan karena uang, bukan karena harta atau kedudukan, juga bukan karena wanita :D
bukan karena uang, bukan karena harta atau kedudukan, juga bukan karena wanita :D
Hihih
Itulah
yang sering kita tanyakan pada diri kita sendiri, karena meniatkan diri untuk
ikhlas memang bukan suatu yang gampang..
Realitas
sehari-haripun bisa kita cantumkan,
Ambil
saja contoh ketika kita mentraktir teman-teman kita di suatu tempat makan. Ketika
nantinya kita dapet Bon yang diluar dugaan, dan raut muka kita yang semula
sumringah, kemudian berubah 180 derajat mentok menjadi sedikit manyun.. :D
naahh hayoo ada yang tawa tiwi :p
naahh hayoo ada yang tawa tiwi :p
Pernah
nraktir apa ditraktir? :p
Hihi
Itulah
sebagian gejala yang menyebabkan kekuatan keikhlasan kita kendor atau bahkan
hilang ditempat, waow :o
Terus
bagaimana menyusun rontokannya lagi? :o
ikhlas itu bukan bongkar pasang soobb :o
ikhlas itu bukan bongkar pasang soobb :o
Terus
kalau kita ditanya “ikhlas g?”
“jelas
aku ikhlas” :o
Loh
masa ikhlas di koar-koar kan? :o
Apa
itu termasuk ikhlas?
Hayoooo
hehehe :p
Memasang
kedudukan ikhlas dalam setiap aktivitas menjadi suatu yang urgen, karena tanpa
memasukkan “chip” keikhlasan, kegiatan kita bagai tiada guna, tiada dorongan
yang mampu memecah dinding keegoisan diri kita.
Maknailah
ikhlas sebagai awal kita melakukan sesuatu, dan mangkhiri semuanya. Secara otomatis
pula kita akan mampu melupakan apa yang telah kita laksanakan dan akhiri. Anggaplah
keikhlasan bagai
“Seekor
semut hitam kecil yang berada di atas batu hitam di tengah kegelapan malam”.
Apa
yang kamu lihat di kenyataannya?
Tidak
akan nampak ^^

0 komentar:
Posting Komentar